Minggu, 15 Maret 2015

Ayam Transgenik Penghasil Antibiotik Tetrasiklin

Ayam Transgenik Penghasil Antibiotik Tetrasiklin

Berbicara mengenai antibiotic tentu tidak asing lagi bagi kalangan masyarakat saat ini, mengingat saat ini untuk mendapatkan antibiotic sudah sangat mudah bahkan tanpa menggunakan resep dokter pun masyarakat dapat membelinya di apotek atau bahkan warung-warung sekitar. Jika membas antibiotic pasti yang terbersit dibenak kita adalah jenis antibiotic penisilin karena jenis antibiotic penisilin merupakan antibiotic yang diproduksi  secara komersil dan dipasarkan secara meluas. namun jika berbicara antibiotic bukan hanya penisilin tetapi ada pula jenis antibiotic lain yaitu tetrasiklin.

Pada awalnya Tetrasiklin ditemukan oleh Lloyd Conover dan dipatenkan pada tahun 1955. Antibiotik golongan tetrasiklin yang pertama ditemukan adalah klortetrasiklin yang dihasilkan oleh Streptomyces aureofaciens. Penemuan tentrasiklin ini merupakan penemuan yang sangat penting dan memberi harapan bagi penyembuhan beberapa penyakit. Namun tetrasiklin yang dihasilkan oleh mikroba Streptomyces aureofaciens ini masih memiliki kekurangan yaitu tetrasiklin sangat labil sehingga cepat berkurang potensinya serta hanya mikroba yang cepat membelah yang dipengaruhi antibiotika Tetrasiklin.

Oleh karena itu, diadakan penilitian lebih lanjut untuk menghasilkan antibiotic tetrasiklin dalam jumlah banyak dan bersifat lebih stabil. Bermula dari pengembangan bioreactor sehingga ditemukan terobosan baru sebagai pengganti mikroba Streptomyces aureofaciens sebagai penghasil tetrasiklin dengan ayam transgenic penghasil antibiotic tetrasiklin yang mampu menghasilkan biofarmasi dalam kualitas dan kuantitas yang besar, yang diperlukan dalam dunia medis untuk men-treatment pasien, dan diharapkan dalam terobosan ini dapat menghasilkan antibiotic tetrasiklin dalam jumlah lebih banyak serta lebih hemat dalam pembuatannya.

Dalam penelitian ini digunakan retrovirus sebagai vektornya. Dimana retrovirus didesain untuk membawa materi genetik berupa GFP (Green Flourescent Protein) dan rtTA (reverse tetracycline-controlled transactivator) dibawah pengontrolan tetracycline-inducible promoter dan PGK (Phosphoglycerate Kinase) promoter. Setelah itu, ayam transgenik dihasilkan yang mana pada bagian telur ditemukan doxycycline yang merupakan derivat dari tetrasiklin serta tidak ditemukan adanya disfungsi fisiologis secara signifikan dari telur tersebut (Kwon, 2011).

 

Tetrasiklin digunakan untuk mengatasi berbagai infeksi yang disebabkan oleh kuman gram positif maupun gram negatif, terutama pada penyakit saluran pernafasan, perkencingan, leptospirosis (penyakit manusia  dan hewan dari kuman dan disebabkan kuman Leptospira yang ditemukan dalam air seni dan sel-sel hewan yang terkena), dan panleukopenia (penyakit yang menyebabkan jumlah sel darah putih kucing menurun dengan drastis).

 

 

Sumber :

www.academia.edu

www.generasibiologi.com

www.ijppsjournal.com

www.itd.unair.ac.id

www.perpusffup.or.id

www.repository.ipb.ac.id

www.repository.unhas.ac.id

Sabtu, 28 Desember 2013

File Slideshare

Maaf, karena masalah koneksi internet jadi file ppt mutasi gen baru bisa saya upload di slideshare. jika ingin mendownload silahkan klik  http://www.slideshare.net/ekasafitri2/ppt-interaktif-mutasi-gen

Kamis, 26 Desember 2013

PENYEBAB KEMATIAN YANG MENJAGA LINGKUNGAN


Burkholderia gladioli atau lebih dikenal dengan nama lama Pseudomonas cocovenenans merupakan salah satu bakteri yang dapat menyebabkan kematian pada manusia, seperti kasus  yang telah terjadi pada tahun 1998 terdapat 34 orang di banyuwangi, Jawa Tengah yang tewas akibat keracunan makanan yang diakibatkan oleh bakteri ini. menjadi cerita kelam yang terus terkenang. Sejak peristiwa itu, banyak papan larangan memproduksi, mengonsumsi, dan menjual tempe bongkrek terpasang di berbagai pasar.  (Suara Merdeka)
Berdasarkan penelitian filogenetik Pseudomonas cocovenenans lebih pantas masuk ke dalam kelas Burkholderia. Oleh karenanya penamaan Pseudomonas cocovenenans digantikan menjadi Burkholderia gladioli (Zopf 1885). Bakteri ini menyukai medium yang memiliki banyak asam lemak, oleh karenanya bakteri ini biasa ditemukan pada ampas kelapa ataupun bungkil kelapa yang merupakan salah satu bahan dasar membuat tempe bongkrek.
Tempe bongkrek yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia khususnya masyarakat jawa ini sebenarnya sangat berbaya dikarenakan pada bahan dasar yang digunakan yaitu ampas kelapa ataupun bungkil merupakan media yang paling disukai oleh bakteri Burkholderia gladioli. Bakteri ini sering mengkontaminasi fermentasi tempe bongkrek karena  mengahasilkan 2 toksin yang membahayakan kesehatan manusia. Kedua toksin  tersebut adalah asam bongkrek dan toksoflavin, kedua toksin inilah yang berbahaya yang dapat menyebabkan keracunan bahkan dapat menyebabkan kematian bagi yang mengkonsumsinya.
Namun, dibalik kerugian yang dihasilkan bakteri ini juga memiliki manfaat yang sangat besar dalam menjaga lingkungan. Bakteri ini dapat dijadikan sebagai bioinsektisida yang tidak mencemari lingkungan dengan memanfaatkan toksin yang dihasilkan bakteri ini sebagai bioinsektisida. Bioinsektisida adalah pestisida berbahan alami tanpa menggunakan zat-zat kimia berbahaya yang dapat mengganggu keseimbangan lingkungan dan membahayakan kesehatan manusia. bioinsektisida digunakan sebagai racun pada tanaman yang terkena hama serangga.
Pembuatan bioinsektisida ini dengan cara memanfaatkan toksin yang dihasilkan oleh bakteri ini, dari toksin ini menghasilkan enzim yang memecah minyak kelapa yang mengasilkan lemak dan gliserol. Asam lemak yang dihasilkan akan mengalami pemecahan dan membentuk asam bongkrek dan toksoflavin yang akan menghambat rantai respirasi pada mitokondria belalang sehingga adenosine triposphate terganggu yang mengakibatkan energi sel tidak terbentuk dan sel jaringan tubuh rusak hingga menyebabkan kematian pada serangga.
Keuntungan menggunakan biopestisida diantaranya, menjaga kesehatan tanah dan mempertahankan hidupnya dengan meningkatkan bahan organik tanah, biopestisida tidak terlalu beracun seperti pestisida kimia sehingga aman untuk lingkungan, pestisida mikroba mengandalkan senyawa biokimia potensial yang disintesis oleh mikroba, hanya dibutuhkan dalam jumlah terbatas, dan mudah membusuk sehingga dapat mengurangi pencemaran. Selain itu, mampu meningkatkan pertumbuhan dari tanaman sehingga dapat dikatakan bahwa penggunaan dari pestisida ini berpotensial untuk mendapatkan pertanian yang ramah lingkungan.

Sumber:
Setyasih, Endah. Article from Journal - ilmiah nasional.1989.
Suara merdeka, terbitan Agustus 1998. Banyuwangi, Jawa Tengah.
Widya. Majalah Ilmiah vol. 6 nomer 49.November 1989
Zhao et al. Phylogenetic evidence for the transfer of Pseudomonas cocovenenans (van Damme et al. 1960) to the genus Burkholderia as Burkholderia cocovenenans (van Damme et al. 1960) comb. nov. Int J Syst Bacteriol. 1995 Jul; 45(3):600-3.